4.7.13

ego

untuk ego yang selalu beradu..

hai, apakabar? aku ingin menyapamu hari ini. jangan salah paham dulu, aku tidak ingin mengajakmu beradu argumen kali ini. hanya lebih baik kita melunakkan ego kita sejenak dengan mengobrol dengan leluasa sembari duduk manis ditemani secangkir teh mungkin? aku rasa itu lebih baik.

begini saja, apa yang membuatmu selalu bersikukuh mempertahankan egomu? apa itu bisa membuatmu merasa bahagia? hahaha aku bertanya seperti ini seolah aku sendiri tidak sama dengan kamu. iya, aku sama dengan kamu. mati-matian mempertahankan ego yang aku sendiri tidak tahu, apa untungnya untuk semenit ke depan? atau mungkin semenit kedepan aku akan kecewa dengan keputusanku mempertahankan ego.
lucu memang, tanpa pikir panjang, ego yang selalu menang dalam pertarungan hati.
merelakan ego ga ada salahnya, bukan? bukan merelakan secara terus menerus untuk selalu mengalah, bukan. ada kalanya kamu harus mengalah, begitu juga dengan aku. egoku terlalu menggebu, kadang aku tidak kuat menahannya, yang pada akhirnya membuatku kesal lalu marah-marah. kumohon tenangkan aku, aku butuh pelukan untuk meredam segala kekesalan itu. jangan selalu terpancing amarah yang sebenarnya tidak perlu. dengan kamu mengerutkan dahi kemudian menarik urat syaraf yang bersiap dengan segala cacian, itu tidak membuatmu tampan, sayang. belajar lah menjadi orang sabar, kita hidup adalah untuk bersabar. bukan begitu?
mari berjuang untuk mengedepankan hati, menomorduakan gengsi. itu lebih baik.
belajar dewasa, belajar menjadi orang tua. :)

hujan

tetes tetes yang mengetuk jendela kamarku saat gelap,
hingga membuatku terlelap.
wangi hujan selalu membiusku untuk terbawa ke masa lalu. rindu..
basahnya air hujan seakan tau betapa basahnya hati kala itu.
sebuah tanda, apakah jika menangis kemudian hujan akan turut serta mengiringi?
baiklah, aku tidak sendiri.
biarlah hujan menyapu segala keresahan.